Renungan Harian


Renungan Harian
Saturday, February 8,2014

BERMULA DARI HAL KECIL

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." Lukas 16:10a

Seorang pendaki bisa mencapai puncak gunung diawali oleh pijakan pertama. Seorang pelari mampu mencapai garis finis dan menjadi juara juga bermula dari langkah awal yang baik. Segala sesuatu yang besar bermula dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Pohon nangka yang besar dan berbuah lebat serta tampak rindang di belakang rumah kita pun juga berasal dari satu biji nangka yang kecil. Coba renungkanlah itu.

Dalam perumpamaan tentang biji sesawi Tuhan Yesus berkata, "Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." (Matius 13:32). Karena itu jangan pernah meremehkan perkara-perkara kecil yang tampaknya sederhana. Untuk menjadi besar kita harus bersedia memulai sesuatu dari perkara yang kecil. Perkara yang kecil bermula dari apa yang ada pada kita saat ini. Apa yang kita miliki adalah permulaan dari segala sesuatu yang akan kita miliki di masa yang akan datang: pekerjaan atau profesi yang kita jalani, pelayanan yang dipercayakan kepada kita, talenta, harta yang kita miliki dan lain-lain. Jangan sampai kita seperti orang yang memiliki satu talenta, yang hanya menyimpan talentanya itu di dalam tanah dan tidak mengembangkannya (baca Matius 25:24-30). Mari kita kerjakan dengan setia apa pun yang dikaruniakan Tuhan bagi kita, supaya pada saatnya, perkara-perkara besar atau hal-hal yang tidak terpikirkan, akan disediakanNya bagi kita. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).

Yesus juga memulai pelayananNya dari bawah. Karena kesetiaan dan ketaatanNya pada Bapa dari hal-hal kecil, akhirnya Yesus menjadi yang terbesar dan "...Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama," (Filipi 2:9). Yusuf, sebelum menjadi the second man di Mesir, terlebih dulu setia dan tekun melakukan perkara-perkara kecil, sehingga pada saatnya ia beroleh kepercayaan terhadap hal-hal yang besar.

Apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita, mari kita kerjakan dengan setia, karena ini adalah permulaan dari perkara-perkara besar.


Tuhan Memberkati

Santapan Rohani


Santapan Rohani
Sabtu, 01 Februari 2014
---------------------------------

Allah Mendengar
Jennifer Benson Schuldt

Baca: 1 Samuel 1:9-20

Karena Hana berkata-kata dalam hatinya . . . suaranya tidak kedengaran. —1 Samuel 1:13

Bacaan Untuk Setahun:
Keluaran 27–28
Matius 21:1-22

Setelah membaca beberapa buku anak-anak bersama putri saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan membaca buku untuk orang dewasa selama beberapa waktu, baru kemudian kami akan membaca bersama buku anak-anak lagi. Saya membuka-buka buku yang ingin saya baca dan mulai membacanya dalam hati. Beberapa menit kemudian, putri saya menatap saya dengan tatapan ragu dan berkata, “Mama tidak benar-benar membaca.” Dalam anggapannya, karena saya membaca tanpa mengeluarkan suara, saya tidak sungguh-sungguh mencerna kata-kata dalam buku itu.

Seperti membaca, doa juga bisa dilakukan tanpa mengeluarkan suara. Hana, yang rindu mempunyai anak, mengunjungi bait Allah dan “berkata-kata dalam hatinya” ketika berdoa. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi “suaranya tidak kedengaran” (1Sam. 1:13). Imam Eli melihat semua itu tetapi salah memahami apa yang sedang terjadi. Hana menjelaskan, “Aku mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan” (ay.15). Allah mendengar permohonan doa tanpa suara yang dipanjatkan Hana dan memberinya seorang putra (ay.20).

Karena Allah menyelidiki hati dan pikiran kita (Yer. 17:10), Dia melihat dan mendengar setiap doa—bahkan doa-doa yang tidak terucapkan oleh bibir kita. Sifat-Nya yang Mahatahu memungkinkan kita untuk berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Dia akan mendengar dan menjawab doa-doa kita (Mat. 6:8,32). Oleh karena itulah, kita dapat terus memuji Allah, memohon pertolongan-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya atas segala berkat-Nya—bahkan ketika orang lain tidak dapat mendengar doa kita.
Indahnya saat yang teduh
Menghadap takhta Bapaku:
Kunaikkan doa pada-Nya,
Sehingga hatiku lega. —Walford
(Kidung Jemaat, No. 454)
Allah memenuhi hati kita dengan damai sejahtera ketika kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya.

Santapan Rohani


Santapan Rohani
Kamis, 30 January 2014
----------------------------------

Berharga Di Mata Allah
David C. McCasland

Baca: Mazmur 116

Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. —Mazmur 116:15

Bacaan Untuk Setahun:
Keluaran 23–24
Matius 20:1-16

Sebagai tanggapan terhadap kabar telah berpulangnya seorang teman dekat kami, seorang saudara seiman yang bijak mengirimkan kepada saya kata-kata berikut, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15). Iman teman kami yang menyala-nyala kepada Yesus Kristus menjadi karakteristik dominan yang menandai hidupnya. Oleh karena itu, kami yakin ia sudah pulang ke rumah Bapa di surga, dan keluarganya pun memiliki keyakinan yang sama. Hanya saja, saya masih begitu terfokus dengan dukacita yang mereka alami. Memang selayaknya kita menunjukkan kepedulian kepada orang lain yang berduka dan mengalami kehilangan.

Namun ayat dari Mazmur tadi membuat saya berpikir tentang cara pandang Tuhan terhadap kematian sahabat kami ini. Sesuatu yang “berharga” pastilah bernilai tinggi. Meskipun demikian, ada makna yang lebih besar di sini. Ada sesuatu dalam kematian orang yang dikasihi Tuhan yang melampaui rasa dukacita kita atas kepergian mereka.

Satu terjemahan Alkitab memberi penjelasan, “Berharga (penting dan bukan hal sepele) di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya (umat-Nya).” Versi lain mengatakan, “Orang-orang yang dikasihi Tuhan begitu berharga bagi-Nya dan Dia tidak membiarkan mereka mati begitu saja.” Allah tak menganggap enteng kematian. Yang ajaib dari anugerah dan kuasa-Nya adalah sebagai orang percaya, hilangnya nyawa di bumi juga akan membawa manfaat besar.

Saat ini kita hanya mengetahui gambarannya secara sekilas. Suatu hari nanti, kita akan memahami semuanya dalam terang-Nya yang sempurna.
Jadi saat napas terakhirku
Mengoyak tabir kehidupan
Dengan kematian aku lolos dari maut
Dan memperoleh hidup kekal. —Montgomery
Iman membangun suatu jembatan yang cukup untuk menyeberangi teluk kematian.

Santapan Rohani


Santapan Rohani
Selasa, 28 February 2014
--------------------------------

Lebih Baik Daripada Yang Direncanakan
Julie Ackerman Link

Baca: Efesus 5:15-21

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. —Efesus 5:20

Bacaan Untuk Setahun:
Keluaran 19–20
Matius 18:21-35

Gangguan bukanlah hal baru. Jarang sekali segala sesuatu dalam satu hari itu berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.

Hidup ini penuh dengan ketidak-nyamanan. Rencana yang kita susun sering dibelokkan oleh berbagai kuasa yang ada di luar kendali kita. Daftarnya panjang dan terus berganti: sakit, konflik, kemacetan di jalan, lupa, peralatan yang rusak, perilaku kasar, kemalasan, ketidaksabaran, ketidakmampuan.

Namun yang tidak dapat kita lihat adalah sisi lain dari ketidaknyamanan. Kita sering menganggap ketidaknyamanan itu tidak memiliki tujuan lain selain membuat kita kecil hati, membuat hidup kita semakin sulit, dan mengacaukan segala rencana kita. Meski demikian, ketidaknyamanan bisa jadi merupakan cara yang dipakai Allah untuk melindungi kita dari sejumlah bahaya yang tidak kita sadari. Ketidaknyamanan juga bisa memberi kita kesempatan untuk menunjukkan kasih dan pengampunan Allah. Mungkin juga hal itu merupakan awal dari sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kita rencanakan sebelumnya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian untuk melihat respons kita terhadap kesukaran. Apa pun itu, meskipun mungkin kita tidak mengerti alasan Allah, kita dapat mempercayai motivasi-Nya, yaitu untuk menjadikan kita semakin serupa dengan Yesus dan untuk memperluas kerajaan-Nya di bumi.

Bisa dikatakan bahwa ketidaknyamanan sudah menjadi “makanan sehari-hari” dari para pengikut Allah di sepanjang sejarah. Namun Allah punya maksud. Dengan kesadaran itulah, kita dapat bersyukur kepada-Nya, karena kita yakin bahwa Dia memberi kita kesempatan untuk menggunakan waktu kita dengan bijaksana (Ef. 5:16,20).
Tuhan, begitu sering aku menjadi jengkel oleh hal-hal kecil yang rasanya begitu banyak di sekitarku. Setiap kali aku tergoda untuk kehilangan kesabaran, menyalahkan orang lain, atau menyerah saja, tolong aku untuk melihat wajah-Mu.
Apa yang terjadi pada kita sama sekali tidak sebanding dengan yang diperbuat Allah di dalam dan melalui kita.

Renungan Malam


Renungan Malam
Kamis, s, 23 January 2014
-------------------------------

Dalam Hadirat-Nya

Nats : Maut telah ditelan dalam kemenangan (1Korintus 15:54)
Bacaan : 1 Korintus 15:50-58

Ketika jemaat di sekeliling saya menyanyikan bait terakhir lagu "Ajaib Benar Anugerah" (Amazing Grace), saya tidak mampu ikut bernyanyi bersama mereka. Saya justru menyeka air mata ketika membaca kata-kata John Newton, "Meski selaksa tahun lenyap di surga mulia, rasanya baru sekejap memuji nama-Nya." Saat itu saya tidak tertarik dengan 10.000 tahun (selaksa) di surga. Yang saya pikirkan hanyalah bahwa putri saya yang berusia 17 tahun telah berada di sana. Melissa, yang beberapa bulan kemudian akan masuk sekolah menengah atas, telah berada di surga. Ia telah mengalami kekekalan yang hanya dapat kita bicarakan dan nyanyikan.

Sejak Melissa meninggal karena kecelakaan mobil pada musim semi tahun 2002, surga memiliki arti baru bagi keluarga kami. Karena putri remaja kami yang cerdas dan cantik itu telah mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, kami tahu ia telah berada di surga. Seperti yang dikatakan Paulus, "Maut telah ditelan dalam kemenangan" (1Korintus 15:54). Bagi kami, surga bahkan menjadi semakin nyata. Kami sadar bahwa ketika kami berbicara dengan Allah, kami sedang berbicara dengan Dia yang menerima Melissa kami di dalam hadirat-Nya.

Kenyataan tentang surga merupakan salah satu kebenaran Alkitab yang paling mulia. Surga merupakan tempat yang nyata di mana orang-orang yang kita kasihi hidup di dalam hadirat Allah yang Mahabesar. Di sana mereka selamanya melayani dan menyanyikan pujian-pujian untuk-Nya. Semua itu karena anugerah-Nya yang luar biasa! --Dave Branon

ORANG KRISTIANI TIDAK PERNAH BENAR-BENAR BERPISAH
UNTUK SELAMA-LAMANYA

Sarapan Rohani

Santapan Rohani
Rabu, 22 January 2014
--------------------------

Bata Tanpa Jerami
Jennifer Benson Schuldt

Baca: Keluaran 5:24–6:12

Aku akan membebaskan kamu . . . , dan menebus kamu dengan tangan yang teracung. —Keluaran 6:5

Bacaan Untuk Setahun:
Keluaran 4–6
Matius 14:22-36

Banyak di antara kita menghadapi tantangan untuk bekerja dengan sumber daya yang terbatas. Kita menghadapi dana yang lebih sedikit, waktu yang lebih singkat, tenaga yang semakin terkuras, dan rekan kerja yang semakin dikurangi, tetapi dengan beban pekerjaan yang mungkin tetap sama. Ada kalanya beban pekerjaan kita justru semakin bertambah. Ada sebuah ungkapan yang merangkum situasi ini: “Membuat lebih banyak bata dengan lebih sedikit jerami.”

Ungkapan ini mengacu pada penderitaan bangsa Israel ketika menjadi budak di Mesir. Firaun memutuskan untuk menghentikan penyediaan jerami bagi bangsa Israel, tetapi ia tetap menuntut mereka menghasilkan batu bata dalam jumlah yang sama setiap harinya. Mereka harus menjelajahi seluruh tanah Mesir untuk mengumpulkan jerami, sementara para pengawas dari Firaun memukuli dan memaksa mereka untuk bekerja lebih keras lagi (Kel. 5:13). Bangsa Israel menjadi begitu kecil hati sampai mereka tidak menghiraukan firman Allah lewat Musa, “Aku akan membebaskan kamu . . . , dan menebus kamu dengan tangan yang teracung” (6:5).

Meskipun bangsa Israel menolak untuk mendengarkan pesan Allah, Allah tetap memimpin dan mengarahkan Musa, dan menyiapkannya untuk berbicara kepada Firaun. Allah tetap teguh membela bangsa Israel dengan berkarya di balik layar. Sama seperti bangsa Israel, kita pun dapat menjadi putus asa sampai-sampai kita mengabaikan penguatan yang kita terima. Dalam masa-masa yang sulit, mengingat Allah sebagai penyelamat kita akan menghibur hati kita (Mzm. 40:18). Allah selalu berkarya demi kebaikan kita, bahkan di saat-saat kita tidak dapat melihat apa yang sedang dikerjakan-Nya.
Tuhan, tolonglah aku untuk percaya kepada-Mu di tengah keputusasaanku. Penuhilah aku dengan pengharapan melalui kuasa Roh Kudus-Mu. Kiranya hidupku dapat menjadi saksi akan kesetiaan-Mu.
Masa-masa yang sulit merupakan masa-masa untuk percaya.

Sarapan Rohani Pagi


Santapan Rohani
Senin, 20 January 2014
----------------------------

Keagungan Sejati
Vernon C. Grounds

Baca: Markus 10:35-45

Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. —Markus 10:43

Bacaan Untuk Setahun:
Kejadian 49–50
Matius 13:31-58

Ada orang-orang yang merasa dirinya bagaikan sebuah batu kerikil kecil yang tak berarti di tengah suatu jurang yang dalam. Namun sekecil apa pun kita menilai diri sendiri, Allah dapat memakai kita secara luar biasa.

Dalam khotbahnya di awal tahun 1968, Martin Luther King Jr. mengutip perkataan Yesus dari Markus 10 tentang hal melayani. Kemudian King mengatakan, “Setiap orang bisa menjadi besar, karena setiap orang bisa melayani. Anda tak perlu gelar sarjana untuk bisa melayani. Anda tak perlu membuat satu kalimat yang sempurna untuk bisa melayani. Anda tak perlu mengetahui tentang Plato dan Aristoteles untuk bisa melayani. . . . Anda hanya perlu sebuah hati yang penuh kasih karunia dan jiwa yang digerakkan oleh kasih.”

Ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa di antara mereka yang akan menduduki tempat terhormat di surga, Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang’’ (Mrk. 10:43-45).

Bagaimanakah dengan kita? Seperti itukah pemahaman kita tentang keagungan? Apakah kita melayani dengan gembira, saat melakukan pekerjaan yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain? Apakah tujuan kita melayani adalah untuk menyenangkan Tuhan dan bukan untuk mendapatkan pujian? Jika kita bersedia menjadi seorang pelayan, hidup kita akan memuliakan Tuhan yang sungguh agung.
Tak ada pelayanan yang dipandang kecil,
Ataupun terlalu besar, meski seluruh bumi diraihnya;
Hal itu kecil jika demi kemuliaan diri sendiri,
Dan itu besar jika seturut kehendak Tuhan. —NN.
Perbuatan sederhana yang dilakukan demi nama Kristus merupakan perbuatan yang sungguh agung.

 
Copyright © 2014. GBKP RUNGGUN KANDIS - All Rights Reserved
Powered by: Blogger