Sarapan Rohani Pagi


Santapan Rohani
Senin, 20 January 2014
----------------------------

Keagungan Sejati
Vernon C. Grounds

Baca: Markus 10:35-45

Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. —Markus 10:43

Bacaan Untuk Setahun:
Kejadian 49–50
Matius 13:31-58

Ada orang-orang yang merasa dirinya bagaikan sebuah batu kerikil kecil yang tak berarti di tengah suatu jurang yang dalam. Namun sekecil apa pun kita menilai diri sendiri, Allah dapat memakai kita secara luar biasa.

Dalam khotbahnya di awal tahun 1968, Martin Luther King Jr. mengutip perkataan Yesus dari Markus 10 tentang hal melayani. Kemudian King mengatakan, “Setiap orang bisa menjadi besar, karena setiap orang bisa melayani. Anda tak perlu gelar sarjana untuk bisa melayani. Anda tak perlu membuat satu kalimat yang sempurna untuk bisa melayani. Anda tak perlu mengetahui tentang Plato dan Aristoteles untuk bisa melayani. . . . Anda hanya perlu sebuah hati yang penuh kasih karunia dan jiwa yang digerakkan oleh kasih.”

Ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa di antara mereka yang akan menduduki tempat terhormat di surga, Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang’’ (Mrk. 10:43-45).

Bagaimanakah dengan kita? Seperti itukah pemahaman kita tentang keagungan? Apakah kita melayani dengan gembira, saat melakukan pekerjaan yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain? Apakah tujuan kita melayani adalah untuk menyenangkan Tuhan dan bukan untuk mendapatkan pujian? Jika kita bersedia menjadi seorang pelayan, hidup kita akan memuliakan Tuhan yang sungguh agung.
Tak ada pelayanan yang dipandang kecil,
Ataupun terlalu besar, meski seluruh bumi diraihnya;
Hal itu kecil jika demi kemuliaan diri sendiri,
Dan itu besar jika seturut kehendak Tuhan. —NN.
Perbuatan sederhana yang dilakukan demi nama Kristus merupakan perbuatan yang sungguh agung.

Renungan Malam


Renungan Malam
Sabtu, 18 January 2014
----------------------------

Hidup dengan Anugerah

Nats : Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (1Petrus 5:5)
Bacaan : 1Petrus 5:5-11

Kevin Rogers, seorang pendeta gereja di Kanada, telah mengumpamakan anugerah Allah sebagai sekretaris khayalan yang memaksanya untuk memperlakukan orang lain seperti yang Allah lakukan. Rogers menulis, "Grace (dalam bahasa Indonesia: Anugerah) adalah sekretaris saya, tetapi ia membuat saya tidak dapat memenuhi jadwal harian saya sendiri. Ia membiarkan orang asing masuk ruang kerja saya untuk mengusik pekerjaan saya. Entah bagaimana, ia membiarkan semua panggilan telepon tersambung ke saya, padahal saya lebih suka menerimanya pada waktu yang lebih tepat. Tidakkah ia tahu bahwa saya punya jadwal acara? Terkadang saya berharap sekretaris saya itu tidak berada di sini. Akan tetapi, ia punya cara yang menakjubkan dalam menutupi kesalahan saya dan mengubah kantor saya menjadi tempat yang kudus. Ia menemukan kebaikan dalam segala sesuatu, bahkan dalam kegagalan."

Oleh anugerah Allah, kasih dan kebaikan hati-Nya yang tak terbatas, kita telah diampuni di dalam Kristus. Allah berfirman, daripada menjalin relasi dengan sikap meninggikan diri, lebih baik kita mengutamakan orang lain daripada diri kita sendiri. Kita harus mengenakan pakaian kerendahan hati karena Dia "menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (1 Petrus 5:5).

Ketika "Allah sumber segala kasih karunia" (ayat 10) mengontrol hidup kita, Dia mampu mengubah gangguan jadi kesempatan, kesalahan jadi keberhasilan, kesombongan jadi kerendahan hati, dan kesengsaraan menjadi kekuatan. Itulah kuasa Allah yang menakjubkan. Itulah bukti anugerah-Nya! --David McCasland

SAAT MENGENAL ANUGERAH ALLAH
ANDA PASTI INGIN MENUNJUKKANNYA

Sabtapan Rohani


Santapan Rohani
Jumat, 17 January 2014
---------------------------

Sudut Pandang Kekekalan
Dennis Fisher

Baca: 2 Korintus 4:16-18

Yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. —2 Korintus 4:18

Bacaan Untuk Setahun:
Kejadian 41–42
Matius 12:1-23

Fanny Crosby telah kehilangan daya penglihatannya sejak ia masih bayi. Namun yang mengagumkan, ia bertumbuh menjadi salah seorang penulis lagu himne Kristen yang paling dikenal sepanjang masa. Fanny, yang dikaruniai umur panjang, menulis lebih dari 9.000 lagu di sepanjang hidupnya. Beberapa himnenya yang menjadi favorit sampai sekarang adalah “Blessed Assurance” (‘Ku Berbahagia) dan “To God Be the Glory” (Terpujilah Allah).

Sejumlah orang merasa kasihan kepada Fanny. Seorang pendeta yang berniat baik pernah berkata, “Sayang sekali Tuhan tidak memberimu penglihatan, padahal Dia menganugerahkan begitu banyak talenta kepadamu.” Fanny memberikan jawaban yang rasanya sulit untuk dipercaya, “Pak, seandainya aku bisa mengajukan satu permintaan saat aku dilahirkan, aku tetap ingin dilahirkan buta. . . . Dengan demikian, ketika aku tiba di surga kelak, wajah pertama yang akan kupandang dan membuatku bersukacita adalah wajah Juruselamatku.”

Fanny memandang hidup dari sudut pandang kekekalan. Masalah-masalah yang kita hadapi pun akan terlihat berbeda jika kita melihat-nya dari sudut pandang kekekalan. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2Kor. 4:17-18).

Segala pencobaan kita akan sirna ketika kita mengingat satu hari yang mulia kelak pada saat kita bertemu Yesus!
Ya Allah, tolonglah kami untuk memandang hidup ini dari sudut pandang surgawi. Ingatkan kami bahwa sesulit apa pun pencobaan yang kami alami, semua itu akan sirna saat kami bertemu muka dengan-Mu.
Cara kita memandang kekekalan akan menentukan cara kita menjalani hidup saat ini.

Renungan Rohani Malam


Renungan Malam
Kamis, 16 January 2014
---------------------------

Lebih dari Kontrak

Nats : Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris (Roma 8:16,17)
Bacaan : Roma 8:14-17

Kita semua sudah terbiasa dengan kontrak. Kita kerap kali harus menandatanganinya; saat mencapai kesepakatan bisnis, mengambil pinjaman bank, membeli mobil, menyewa apartemen, atau membeli peralatan besar. Kontrak, baik formal maupun tidak, memerinci apa yang terjadi jika salah satu pihak gagal memenuhi perjanjian.

Bagaimanapun, percaya kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan lebih dari sekadar menandatangani sebuah kontrak. Pada saat kita percaya, berarti kita masuk dalam hubungan yang mengikat dengan Allah, di mana Dia menjadikan kita anak-anak-Nya melalui kelahiran baru dan pengangkatan anak (1 Petrus 1:23; Efesus 1:5). Oleh karena adanya hubungan keluarga yang erat ini, kita menjadi pewaris tetap dari warisan kekal yang disediakan Allah bagi kita di surga (1 Petrus 1:4).

Kontrak dapat dibatalkan jika salah satu pihak gagal memenuhi janji yang telah disepakati. Namun untung bagi kita, akhir hidup kita dalam kekekalan didasarkan pada sesuatu yang lebih dari sekadar perjanjian yang sah dengan Allah. Kita berada pada posisi yang benar-benar aman karena hubungan kekeluargaan dengan-Nya. Jika seorang anak tidak hadir saat makan malam, bukan berarti kewajiban orangtua tidak berlaku lagi. Namun mereka akan mencari sang anak. Kelalaian seorang anggota keluarga tidak akan pernah memutus hubungan kekerabatan mereka.

Betapa kita sungguh bersyukur karena hidup yang kekal didasarkan pada hubungan kita dengan Allah melalui Kristus --Haddon Robinson

KITA ADALAH AHLI WARIS ALLAH BUKAN HANYA BERDASAR KONTRAK
NAMUN BERDASAR HAK KITA SEBAGAI ANAK

Renungan Pagi


Santapan Rohani
Kamis, 16 January 2014
---------------------------

Tenda Kecil
David C. McCasland

Baca: Kolose 1:1-12; 4:12

Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. —Kolose 1:19

Bacaan Untuk Setahun:
Kejadian 39–40
Matius 11

Sepanjang rangkaian kebaktian kebangunan rohani bersejarah yang diadakan oleh Billy Graham di Los Angeles pada tahun 1949, orang-orang memadati sebuah tenda raksasa yang dapat menampung lebih dari 6.000 orang setiap malamnya selama 8 minggu berturut-turut. Di dekat tenda raksasa itu, ada sebuah tenda yang lebih kecil yang disediakan untuk pelayanan konseling dan doa. Cliff Barrows, seorang pemimpin musik, sahabat karib sekaligus rekan pelayanan Graham, sering mengatakan bahwa karya penginjilan yang sesungguhnya terjadi dalam “tenda kecil” itu, di mana sekumpulan orang berlutut untuk berdoa sebelum dan selama kebaktian kebangunan rohani berlangsung. Seorang wanita asal Los Angeles bernama Pearl Goode menjadi penggerak dari persekutuan doa tersebut dan dalam banyak kebaktian yang diadakan selanjutnya.

Dalam surat kepada para pengikut Kristus di Kolose, Paulus meyakinkan mereka bahwa ia beserta rekan-rekan sepelayanannya selalu berdoa untuk mereka (Kol. 1:3,9). Di akhir suratnya, Paulus menyebut nama Epafras, seorang perintis gereja di Kolose, yang “selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah” (4:12).

Sejumlah orang memang diberi tanggung jawab untuk tampil di hadapan orang banyak guna memberitakan Injil di bawah “tenda raksasa”. Namun Allah menganugerahkan kepada kita semua, sama seperti yang dianugerahkan-Nya kepada Epafras dan Pearl Goode, suatu hak istimewa untuk berlutut memanjatkan doa di dalam “tenda kecil” dan membawa jiwa-jiwa ke hadapan takhta-Nya.
Mulialah mereka yang berdoa
Untuk sesama yang begitu membutuhkan;
Dengan bertelut mereka giat melayani
Tekun berdoa dan tak menyerah. —D. DeHaan
Doa bukanlah sekadar persiapan menjelang pelayanan, melainkan pelayanan itu sendiri. —Oswald Chambers

Santapan Rohani


Santapan Rohani
Rabu, 15 January 2014
--------------------------

Makanan Di Lemari
Dave Branon

Baca: Matius 6:25-34

Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan . . . apa yang hendak kamu pakai. —Matius 6:25

Bacaan Untuk Setahun:
Kejadian 36–38
Matius 10:21-42

Marcia adalah seorang sahabat saya yang menjadi direktur dari Sekolah Luar Biasa Kristen di Jamaika bagi kaum tuna rungu. Baru-baru ini tulisannya memberikan wawasan penting tentang sudut pandang. Dalam sebuah artikel yang diberinya judul “Suatu Awal yang Indah”, ia menyebutkan bahwa untuk pertama kalinya dalam 7 tahun sekolah itu memulai tahun ajaran baru dengan suatu surplus. Apa yang menjadi surplusnya? Apakah tabungan seribu dolar di bank? Bukan. Persediaan perlengkapan sekolah yang cukup untuk setahun? Bukan. Hanya ini: Persediaan makanan di lemari yang cukup untuk sebulan.

Hal itu sungguh luar biasa, mengingat tanggung jawabnya untuk memberi makan 30 anak yang lapar dengan anggaran terbatas! Marcia mencantumkan dalam tulisannya ayat 1 Tawarikh 16:34: “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Tahun demi tahun Marcia mempercayai Allah untuk terus memelihara anak-anak dan para pekerja di sekolahnya. Ia tidak pernah memiliki banyak hal—entah itu air atau makanan atau perlengkapan sekolah. Akan tetapi ia selalu bersyukur atas semua yang Allah berikan, dan ia tetap setia untuk mempercayai bahwa Allah akan selalu memelihara mereka.

Ketika kita memulai tahun yang baru ini, apakah kita masih mempercayai pemeliharaan Allah? Mempercayai pemeliharaan Allah berarti mempercayai ucapan Yesus, Sang Juruselamat, yang berkata, “Janganlah kuatir akan hidupmu . . . janganlah kamu kuatir akan hari besok” (Mat. 6:25,34).
Oh tiada ‘ku gelisah Akan masa menjelang;
‘Ku berjalan serta Yesus,
Maka hatiku tenang. —Stanphill
(Pelengkap Kidung Jemaat, No. 241)
Kekhawatiran takkan menghapus kesedihan di hari esok; tetapi merampas daya hidup hari ini. —Corrie ten Boom

 
Copyright © 2014. GBKP RUNGGUN KANDIS - All Rights Reserved
Powered by: Blogger